Tampilkan postingan dengan label andre wongso. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label andre wongso. Tampilkan semua postingan

KASIH IBU by Andre Wongso

KASIH IBU 
 
Dikisahkan, ada seorang pemuda berusia menjelang 30 tahun. Namun
sayangnya, ia hanya memiliki kemampuan berpikir layaknya anak
berumur di bawah 10 tahun. Ibunya dengan penuh kasih memelihara dan
mendidik si anak agar kelak bisa hidup mandiri dengan baik, terlebih
karena ia merasa anaknya punya kemampuan berpikir yang sangat
minim.Si anak sangat mencintai ibunya. Suatu hari dia berkata, "Ibu,
aku sangat senang melihat ibu tertawa, wajah ibu begitu cantik dan
bersinar. Bagaimana caranya agar aku bisa membuat ibu tertawa setiap
hari?""Anakku, berbuatlah baik setiap hari. Maka, ibu akan tertawa
setiap hari," jawab si ibu. "Lantas, bagaimana caranya berbuat baik
setiap hari?" tanya si anak. "Berbuat baik adalah jika kamu bekerja,
bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Bantulah orang lain terutama
orang-orang tua yang perlu dibantu, sakit atau kesepian. Kamu bisa
sekadar menemani atau membantu meringankan pekerjaan mereka.

Perlakukanlah orang-orang tua itu sama seperti kamu membantu ibumu.
Pesan ibu, jangan menerima upah ya. Setelah selesai membantu,
mintalah sobekan tanggalan dan kumpulkan sesuai urutan nomornya.
Kalau nomornya urut artinya kamu sudah berbuat baik setiap hari,
dengan begitu ibu pun setiap hari pasti akan senang dan tertawa," jawab
si ibu sambil membelai sayang anak semata wayangnya. Sejak ibunya
meninggal, karena kenangan dan keinginannya melihat ibunya tertawa,
setiap hari sepulang kerja, dia berkeliling kampung membantu orangorang
tua, kadang memijat, menimba air, memasakkan obat, atau
sekadar menemani dengan senang dan ikhlas. Bila ditanya orang kenapa
hanya sobekan tanggalan yang diterimanya setiap hari? Dia pun
menjawab, "Karena setiap hari, setibanya di rumah, sobekan tanggalan
yang aku kumpulkan, kususun sesuai dengan nomor urutnya. Maka
setiap hari aku seakan bisa mendengar Ibuku sedang melihatku dan
tertawa bahagia di atas sana." Si pemuda yang berpikiran sederhana itu
telah menjadi sahabat banyak orang di desa. Sehingga suatu ketika, atas
usul dari seluruh warga, karena kebaikan hatinya, dia dianugerahi oleh
pemerintah bintang kehormatan dan dana pensiun selama hidup untuk
menjamin tekadnya, yakni agar setiap hari bisa membantu orang lain di
sisa kehidupannya. Untuk kehidupan saat ini, memang rasanya cukup
sulit untuk menemukan orang yang membantu orang lain tanpa ada
keinginan untuk menerima balasan. Padahal, esensi kehidupan manusia
sebenarnya adalah saling bantu membantu, menolong dan ditolong.
Padahal sebenarnya, bila kita bisa berbuat baik dan membantu orang
lain sesuai dengan yang dibutuhkan, akan memberikan rasa yang nikmat
Sekali. Tentu, untuk berbuat baik dan membantu orang lain ini
.membutuhkan kesadaran, latihan, dan membiasakan diri terus menerus.
Karena itu, mari kita praktekkan pepatah sederhana ini: Tiap hari
melakukan satu kebaikan. Dengan begitu, hidup akan terasa lebih
hidup, dan akan kita dapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.

Disadur dari www.andriewongso.com

AYAHKU TUKANG BATU

Action & Wisdom Motivation Training by andrie wongso

“Wo ba ba shi jian zhu gong ren”

Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. "Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor," katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. "Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu," keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, "Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini."

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, "Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu."

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, "Maafkan putri, Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah." Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.

Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.

Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!

Salam Sukses Luar Biasa!!!!
Andrie Wongso